Senin, 27 Februari 2012

PELANGI DI MALAM HARI





            Terik matahari menyengat kota yang selalu sibuk. Bising dari suara kereta api, bemo dan bunyi bel berbagai kendaraan yang saling menyahut semakin memeningkan kepala. Ribuan manusia kocar-kacir mengurusi dirinya sendiri. Kriminalitas dimana-mana. Bahaya mengintai tak pandang bulu. Sedangkan para koruptor sedang berfoya-foya menikmati uang rakyat yang telah mereka rebut. Keserakahan tak terperi. Jakarta.
            Di sebuah rumah yang sangat sederhana, tengah menunggu seorang anak berseragam sekolah biru putih dengan sepedanya yang mengkilat-kilat mamantulkan cahaya matahari. Dari dalam rumah terdengar bunyi suara mesin jahit dan suara anak laki-laki. ”Bu, Bastian berangkat sekolah dulu,” terlihat dari kaca jendela anak laki-laki itu mencium tangan ibunya dan melangkah keluar menjemput sepedanya lalu menghampiri anak laki-laki yang sedaritadi menunggunya.
            ”Assalamu’alaikum,” ucap mereka hampir bersamaan.
            ”Wa’alaikumsalam,” jawab ibu Bastian dari dalam rumah.
Dan berangkatlah mereka ke sekolah yang jauhnya tak kurang dari empat kilometer itu. Berbekal seragam, sepatu dan tas yang lusuh, mereka terus mengayuh sepeda, menyusuri sungai-sungai yang rohot, melewati rumah-rumah yang berdempetan dan menantang matahari demi mengisi otak mereka yang haus akan ilmu.
            Api semangat mereka tak pernah padam dihempas oleh waktu. Cita-cita yang tinggi sudah terpatri dalam benak mereka. Mereka yakin bahwasannya semangat akan mengalahkan segalanya.


 



Nasib keluarga Bastian semakin pilu semenjak ayahnya yang bekerja sebagai pegawai pos itu meninggal karena penyakit jantungnya. Rumah satu-satunya terpaksa harus dijual untuk melunasi hutang keluarganya. Dan kini, di rumah yang amat kecil ini, mereka berlindung dari bahaya yang mengintai di luar sana.
            Di kota yang semuanya serba mahal ini, Bu Lastri harus membanting tulang memenuhi kebutuhan hidupnya dan kedua anaknya: Bastian dan Sekar, adik Bastian. Bu Lastri bekerja serabutan sebagai penjahit, namun jika sepi, terkadang ia juga mencucikan pakaian tetangganya. Dari pekerjaan itulah mereka dapat hidup.
            Karena penghasilan yang begitu minim, Bastian, anak laki-laki usia 14 tahun ini harus bekerja untuk membiayai uang sekolahnya. Pagi, ia harus mengantarkan koran-koran ke rumah pelanggannya. Siang bolong yang sinarnya mudah saja menanarkan mata, ia gunakan untuk sekolah. Memang, sekolahnya itu didirikan khusus untuk anak-anak kurang mampu yang harus bekerja di pagi hari, sehingga mereka sekolah siang hari. Sorenya, ia mesti mengantarkan kue buatan tetangganya ke warung-warung. Begitulah, tak ada waktu luang untuk bermain ataupun sekedar menonton TV. Hari-harinya selalu sibuk, tapi bukan sibuk karena mengikuti kursus dimana-mana, melainkan sibuk bekerja.
            Aku takkan pernah menyerah. Aku akan terus berjuang. Aku harus dapat beasiswa. Aku tak ingin mengecewakan Ayah. Pendidikan, ya, pendidikan harus kuperjuangkan! Itulah kata-kata ajaib yang selalu menggema di hati Bastian. Membakar semangatnya hingga meluap-luap, meleburkan semua kerikil keputusasaan untuk meraih mimpinya, cita-cita yang tak pernah goyah.


 



            ”Bastian, apa cita-citamu, Nak?” begitulah tanya Ayah Bastian semasa hidup, waktu Bastian berumur tujuh tahun. Tapi Bastian kecil hanya diam, memutar-mutar otaknya dan juga memutar bola matanya yang bening itu.
            ”Cita-cita? Apa itu, Yah?” tanyanya dengan polos.
            ”Cita-cita itu, keinginan Bastian sewaktu besar nanti ingin menjadi   apa ?” jelas Ayah Bastian sambil mengelus-elus rambut jagoan kecilnya. Ayahnya tidak memaksa  Bastian untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya tak perlu dijawab oleh bocah kecil itu.
            Ayahnya tahu bahwa Bastian mempunyai bakat menulis seperti dirinya. Bastian kecil senang menulis cerita semenjak ia bisa baca tulis.
            ”Bastian ingin jadi seperti Pak Makruf” celetuk Bastian dengan penuh kepolosan. Pak Makruf  tak lain adalah guru TK Bastian kecil. Ayah Bastian tersentak mendengar jawaban puteranya. Dia bisa melihat kepolosan itu dari sorot mata Bastian yang begitu jernih.
            ”Ya, bagus itu, Nak. Kamu harus bisa jadi apa yang kamu mau. Kejarlah cita-citamu.” Bastian tak acuh ia sedang asyik dengan mobil-mobilannya.
            Namun kini cita-cita kecil itu telah menjelma menjadi cita-cita yang begitu istimewa dan mulia. Bastian ingin menjadi Menteri Pendidikan. Ya, Menteri Pendidikan. Tapi mengapa? Mengapa ia tak ingin jadi penulis saja? Mengingat bakatnya yang potensial itu.
            Selidik punya selidik, ternyata ia sangat peka dan perhatian terhadap kondisi perkembangan pendidikan di Indonesia. Pendidikan masih mahal, banyak anak yang tidak bisa menikmati rasanya duduk di bangku sekolah. Bahkan ia sendiri merasakan betapa dirinya harus bekerja membanting tulang untuk membiayai sekolahnya sendiri. Padahal, pendidikan merupakan kunci untuk memajukan ibu pertiwi. Itulah sebabnya, ia begitu terobsesi untuk menjadi Menteri Pendidikan. Bocah cerdas ini ingin memajukan pendidikan di tanah airnya.


 



            Tidak seperti biasanya, pagi ini Bastian tidak mengantar koran ke rumah-rumah pelanggannya, tidak juga mengambil jajanan tetangganya seperti yang biasa ia lakukan.
            ”Bastian, kamu tidak mengantarkan koran hari ini ?” tanya ibu Bastian ketika mendapati puteranya sedang mengemasi buku-buku pelajaran yang lusuh itu.
            ”Ndak, Bu” jawabnya singkat.
            ”Lha kamu mau kemana? Kok bawa buku sebanyak itu, ha?” kaca-matanya ia turunkan, memastikan apa yang sedang Bastian lakukan.
            ”Mau ngajak Heri ke alun-alun, Bu” jawab Bastian. Ibunya semakin tak mengerti. Lalu ibunya duduk melepaskan kacamatanya. Mengamati puteranya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Apa yang akan dilakukan anakku dengan anak mandor galak itu? Pikirnya dalam hati. Seolah mengerti apa yang sedang ibunya pikirkan, Bastian tersenyum simpul, kemudian mulai nglantur.
            ”Aku mau berkelahi sama Heri”.
Mendengar perkataan anaknya, telinga Bu Lastri langsung berdiri seperti baru tersengat.
            “Apa? Berkelahi? Jangan, Nak!” Beliau memicing-micingkan kepalanya dan telunjuknya menuding-nuding. ”Jangan cari gara-gara sama anak Pak Jukri  itu! Bisa gawat!” Ibu Bastian gemetar menepuk-nepuk Bastian. Melihat reaksi ibunya, Bastian terkekeh-kekeh. Sebenarnya, perpustakaan, buku, tas, dan penampilan Bastian tidak ada hubungannya dengan perkelahian, bukan? Tapi, bukan Ibu Lastri jika tidak dramatis. Dan darah dramatisan itu juga mengalir dalam darah Bastian.
            ”Nggak, kok, Bu. Bastian cuma bercanda. Bastian nggak mau berkelahi dengan Heri. Bastian mau ngajak Heri ke perpustakaan dan mau mengajar teman-teman Heri dan Bastian, Bu.” Bastian tersenyum bangga. Dan kalimat itu seolah memadamkan api kekhawatiran ibunya. Ibunya menghela napas lega tapi ganjil. Tak ada ucapan syukur, yang ada keadaan semakin membeku.
            ”Heeeeh…” Bu Lastri menghela napas seperti meremehkan, sambil berbalik menuju mesin jahitnya. ”Kamu itu nggak usah neko-neko. Gak usah sok jadi pahlawan. Orang udik kaya kita ini, cari uang aja susahnya minta ampun,” cetusnya. Beberapa menit kemudian suasana hening. Bastian tak dapat berkata-kata. Kata hatinya selalu bertentangan dengan ibunya. Kemudian Bu Lastri melanjutkan.
            ”Kerja saja sana… Cari uang yang banyak biar bisa beli rumah yang bagus.” Bulu kuduk Bastian merinding mendengar kata-kata ibunya. Dan seketika itu, ia merasakan kerinduan yang amat dalam pada ayahnya. Dulu semasa hidup, Ayahnya selalu, selalu, tak pernah tidak membela Bastian. Memotivasi Bastian di saat-saat seperti ini. Di saat-sat yang membuat nyalinya mengecil. Ibunya sendiri yang selalu menentangnya. Tapi, Bastian tak pernah mengerti mengapa ibunya selalu bersikap seperti itu. Mungkin ia sudah putus harapan.
            Dulu, Bastian mudah bangkit dari batin yang terhimpit. Itu karena ada ayahnya. Namun kini ia harus berusaha sendiri mengumpulkan puing-puing kepercayaan dirinya yang sempat runtuh hanya karena satu, dua kalimat yang terlontar dari mulut ibunya.
            Bastian bangkit dari kursinya dan berdiri di ambang pintu. Jarak dua meter di depannya, ia melihat sepeda kecilnya yang sudah tua. Mengkilat-kilat menyilaukan. Kini, Bastian pergi ke alam imajinasinya. Melihat semua kenangan tentang dirinya, ayahnya, dan sepeda itu. Sepeda yang ayahnya belikan tujuh tahun yang lalu karena Bastian mendapat juara satu dulu, kini menjadi barang satu-satunya yang berharga.
             Air matanya tak bisa dibendung lagi. Air matanya telah meleleh membasahi pipinya. Bastian tak menghalanginya. Tatapannya sendu tapi penuh arti. Kerinduan tak terungkapkan. Suara mesin jahit, burung-burung yang berkicau, deru angin yang berbisik-bisik menjadi warna tersendiri yang memilukan.
            Sejurus kemudian, ia tersadar. Ia mengusap-usap pipinya yang basah. Tanpa melirik sedikitpun pada ibunya, Bastian lari menuju sepedanya dan menaikinya. Bu Lastri melongok keluar jendela. Kepalanya menggelang-geleng. Raut mukanya seperti mau berkata “Keras kepala”.


 



            Setelah kurang lebih 25 menit mengayuh sepeda, akhirnya Heri dan Bastian tiba di tempat yang mereka tuju. Di sebuah kolong jembatan itu, tengah menunggu lima orang anak berbaju kumal. Tapi wajah mereka tampak sumringah menyambut kedatangan Bastian dan Heri. Kelima anak itu: Udin, Ayu, Maya, Igor dan Tomo segera menghampiri mereka.
            ”Kalian sudah min…” Belum sempat Heri selesai bicara, Udin yang berperawakan kecil dan bersuara parau itu sudah menukasnya. “Tenang saja Bang Heri. Semua beres!” katanya sambil menyilangkan tangannya. Tawa pun pecah. Timbul tenggelam ditelan suara kendaraan menderu. Lalu, mereka mulai sibuk membantu membawakan papan kecil, tikar, serta buku-buku yang dipinjam dari perpustakaan yang dikaitkan sekenanya pada sepeda Heri. Dengan terbopoh-bopoh mereka menggiringnya ke tepi.
            Heri. Sahabat kecil Bastian itu selalu setia. Bapaknya adalah mandor galak. Tapi untung tak menurun pada Heri yang perangainya sabar itu. Tubuhnya agak gemuk. Matanya bulat kecil. Hidung dan mulutnya pun kecil tapi lucu. Ya, Heri memiliki baby face.
            Setelah beberapa menit beristirahat, kegiatan belajar-mengajar pun dimulai. Bastian bertugas menerangkan di papan tulis, sementara Heri menjelaskan kepada teman-temannya jika ada yang tidak mengerti. Sungguh pemandangan yang asing bak sebuah batu pualam di antara batu-batu kali.
            Suara Bastian terdengar agak parau karena ia  harus berlomba dengan suara bising dari kendaraan di jalan raya. Kini Heri dan Bastian memiliki kebiasaan baru mengajar teman-temannya seminggu dua kali sebelum sekolah.
            Semakin hari, anak-anak jalanan yang ikut belajar semakin banyak. Mungkin karena belajar ini gratis, tidak perlu membayar SPP, seragam, buku-buku paket dan lain sebagainya. Mereka hanya bermodalkan buku dan alat tulis seperlunya. Dan yang paling penting, serta yang membuat Bastian bangga adalah semangat mereka. Mereka tidak bersekolah bukan karena mereka malas, melainkan memang karena tak ada biaya. Begitulah kira-kira kesimpulannya.


 



            Pagi yang cerah. Bastian menikmati suasana pagi ini dengan mengelap sepedanya. Di beranda rumahnya itu tampak ia sedang bersiul-siul sambil mengelap setiap sisi sepedanya dengan lembut seakan ia tak mau sebutir debu pun menempel pada sepedanya itu.
            Namun tiba-tiba suasana berubah ketika Heri datang terseok-seok dengan sepedanya. Keringatnya bercucuran dan ia langsung menghempaskan sepedanya ke tanah lalu buru-buru menghampiri Bastian. Napasnya masih tersengal-sengal.
            ”Ada apa, Her?” tanya Bastian keheranan.
            ”Kamu dikejar anjing lagi?” Heri menggeleng. Ia menyerahkan selembar pamflet pada Bastian dan mulai bercerita.
            ”Gi . . . gini, Bas,” katanya sedikit gagap.
            ”Aku tadi nemuin pamflet ini di depan rumahku. Mungkin ada orang yang membuangnya di situ.” Bastian membaca pamflet itu. Kepalanya bergerak dari kiri ke kanan mengikuti alur tulisan. Dari air muka Bastian, Heri dapat membaca kegembiraan sahabatnya.
            ”Gimana? Kamu ikut, kan?” Heri penasaran.
            “Pasti! Pasti, Her! Ini kesempatan emas! Bagaimana pun caranya aku harus ikut!” Bastian melonjak-lonjak excited sambil menepuk-nepuk bahu Heri.
            Pamflet itu tak lain adalah tentang lomba karya tulis. Heri tahu bahwa kawannya itu memiliki bakat menulis yang luar biasa. Setiap karyanya pasti ditunjukkan pada Heri. Hanya saja ia belum pernah ikut lomba. Tapi kini kesempatan itu datang melalui Heri. Kesempatan yang takkan pernah disia-siakan. Kesempatan ini layaknya sebuah pintu menuju gudang emas. Bila Bastian bisa membukanya, ia akan mendapatkan apa yang ia impikan. Beasiswa pendidikan.
            Tak ada kesulitan yang berarti bagi Bastian untuk menulis, mengingat menulis adalah hobinya. Maka tak ayal jika hanya dalam waktu dua puluh lima hari karyanya sudah rampung. Ia bekerja keras demi mendapatkan beasiswa itu. Hanya saja ia bingung kemana ia harus mengetikkan makalahnya. Dirinya dan Heri tak memiliki komputer. Pun tidak ada rental-an disekitar rumahnya. Tapi tiba-tiba ia teringat tentang Om Husen, sahabat almarhum ayahnya yang juga pegawai Pos. Keluarganya sudah mengenal baik keluarga Om Husen.
            Tak buang waktu, pagi ini ia langsung pergi mengayuh sepedanya 5 km jauhnya untuk bersilaturrahim dengan Om Husen  sekaligus  meminta bantuannya untuk meminjam komputernya untuk mengetik karya tulisnya.
            Sesampainya di rumah Om Husen, Bastian bercerita banyak mengenai ia dan keluarganya serta karya tulis yang akan ia lombakan. Dengan senang hati Om Husen mau membantu Bastian mengetik karya tulisnya.
            Setelah lima hari berturut-turut ia harus bolak-balik 10 km untuk mengetikkan karya tulisnya itu di rumah Om Husen, akhirnya hari ini selesai sudah pengetikan, pengaturan dan penjilidan. Tanpa buang waktu, hari itu juga ia pergi ke kantor pos untuk mengeposkannya. Dia mengucapkan banyak terima kasih  kepada Om Husen yang telah membantunya.
            “Om juga senang membantumu, Bas. Dulu sewaktu bapakmu masih hidup, beliau juga sering membantu Om. Kini giliran Om yang membantumu. Karyamu itu…” cerita Om Husen sambil menuding-nudingkan telunjuknya. “Sungguh luar biasa. Persis seperti ayahmu, penulis amatiran. Ha . . . ha . . . ha . . .” tawanya meledak-ledak.” Tapi jangan salah . . . Biarpun begitu, karyanya . . . .” Om Husen mengacungkan jempolnya. “Bak karya-karya penulis andal. Ha . . . ha . . . ha . . . ” Bastian tersenyum bangga.


 



            Dua minggu sudah Bastian menunggu pengumuman lomba itu. Tapi belum ada kabarnya. Padahal, dalam hatinya ia berharap untuk bisa memenangkan  lomba itu. Tapi . . . mungkinkah ia kalah?
            Bastian mondar-mandir di depan pintu sambil berkacak pinggang. Sesekali ia menggaruk-garuk kepalanya dan melongok ke halaman, berharap seseorang bermotor oranye membunyikan belnya dan berhenti di depan rumahnya seraya menyerahkan amplop besar. Ibunya yang sedang menjahit hanya bisa mengamati puteranya.
            Sudah hampir setengah jam Bastian hilir mudik seperti itu layaknya orang amnesia yang sedang bingung mencari rumahnya. Kini ibunya mulai bosan.
            “Sudahlah, Bas. . . Kalau belum rejeki ya nggak apa-apa, masih ada kesempatan lagi.” Ibunya berkata dengan nada pesimis. Namun Bastian malah menunjukkan sikap keras kepalanya. Perkatan Ibunya seperti masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Sama sekali tak digubrisnya.
            Tapi beberapa menit kemudian sebuah kejaiban datang. “Tin . .Tin. . ” suara bel terdengar dari luar pagar. Pak Pos datang dengan membawa sebuah amplop besar coklat. Wajah Bastian berseri-seri menerima amplop itu. Jantungnya berdegup cepat. Darahnya mengalir deras.
            Dibawanya amplop itu pada ibunya. Bu Lastri langsung melepaskan kacamatanya. Mereka pun duduk sigap di sofa reyot miliknya. Perlahan, Bastian membuka amplop itu. Di muka amplop terlukis jelas stempel lembaga penyelenggara lomba. Dikeluarkannya sebuah kertas berwarna merah marun yang bertuliskan :

SELAMAT”
Anda menjadi Juara 1 Lomba Karya Tulis tingkat Nasional
           
            Mata Bastian berkaca-kaca. Ia menitikkan air matanya. Tapi lama-lama air matanya mengalir deras. Mulutnya komat-kamit mengucapkan Alhamdulillah.
            Bu Lastri hanya terdiam. Tatapannya kosong tapi ganjil. Ia menatap    jauh. . . Nun jauh di sana ia seperti sedang melihat almarhum suaminya berdiri di sana dan tersenyum pada mereka. Namun kemudian Bu Lastri berpaling pada Bastian yang wajahnya memerah. Lalu tersenyum manis dan memeluk Bastian. Air matanya bercucuran. “Alhamdulillah . . . Nak” ucapnya sambil menahan haru. “Sekolah, Bu . . . Sekolah!” Suara Bastian terdengar bergetar dalam dekapan ibunya. Bu Lastri manggut-manggut dan menciumi kening Bastian.
            Hari itu seolah para malaikat turun dari langit membawa berita gembira serta memberikan seberkas sinar harapan. Para bidadari seolah turun dari kayangan dan menari-nari di antara mereka. Tak ketinggalan keluarga kupu-kupu, capung, lebah, semut, semuanya bergabung dalam sebuah orkestra harmoni. Burung pun bernyanyi meramaikan suasana. Hari  itu salju seperti turun di padang Sahara. Menyejukkan hati yang nyaris tandus harapan. Bunga-bunga bersemi di musim gugur. Pelangi pun turun di malam hari. Semua itu hanya terjadi hari ini. Hanya untuk menghiasi hati seorang bocah yang telah menunggu keajaiban ini datang.


 



Sepuluh tahun kemudian
            Mentari bersinar cerah. Musim semi telah mampir. Bastian sedang bersandar pada pohon hawthorn yang sendu. Daunnya yang lebat menaungi tubuh jangkung Bastian. Tatapannya jauh menghampiri riak sungai Seine, tenang, tapi berirama syahdu.
            Hampir dua tahun ia meninggalkan tanah kelahirannya. Ia masih tak percaya bahwa sekarang ia sedang berpijak di negeri orang, Paris. Menempuh pendidikan yang selama ini tak terbayangkan. Mencoba menelusuri kembali mimpi-mimpi yang dulu ia pertaruhkan. Ia pertaruhkan di tengah kemayaan riang. Betapa ia takjub atas Keagungan Tuhan yang telah memeluk dan mewujudkan mimpinya. Ia ingat, seandainya saja Heri tidak memberikan pamflet itu padanya, pasti sekarang ini ia sedang terlunta-lunta di jalanan karena putus sekolah. Tapi sekarang ia telah berhasil mendapatkan beasiswa.
            Sorbonne. Tempat dimana ia menimba ilmu sekarang ini telah menjadi saksi bisu akan kekuatan mimpi dan semangat yang mengantarkan orang udik seperti Bastian ke tempatnya.
            Namun di sela-sela perasaan kagum itu, tersirat satu perasaan rindu yang begitu mendalam. Betapa ia rindu pada ayahnya, ibunya, Sekar, Heri, teman-temannya, Om Husen dan Jakarta tentunya. Bagaimana keadaan mereka  sekarang? Sedang apa mereka semua? Ingin sekali ia bertemu dengan mereka detik ini juga. Namun apa daya ia saat ini, karena di sini ia harus mengantongi ilmu sebanyak-banyaknya untuk dibawa pulang ke tanah air. Mewujudkan satu lagi mimpinya. Memajukan ibu pertiwi melalui pendidikan.



THE END




MORE HOT AND HOT

Have you ever thought why God created human beings on earth? Or you might have the answer of the question why humans have brain while animals and vegetation do not.
I will not explain this because I am sure you know. Yes, humans were created to make a better life on the earth.
The earth and everything on it is for humans, but it doesn’t mean that humans can do everything on it.

Global warming is becoming a serious issue in every country including in Indonesia, which is considered as ‘the Lungs of the World’ because of its large forests. But ironically many Indonesian people do not know what global warming is all about. This is because they prefer watching gossip news of the artists.

Now there are many ways that we can do to save the earth without blaming other people because we can start from ourselves.
When you throw a piece of plastic in the right place, I mean in the basket, do you ever think how much plastic you have put in the right place? If everybody is doing the same thing, it means that we are saving the environment from diseases, from bad smell, from bad scenery, from flood, and from everything that can disturb us.
That is only one of the many things that we can do to save the earth. What about a big problem like ILLEGAL LOGGING that has been done continuously in Indonesia? I hope we still remember the flash flood that completely destroyed Wasior, Leuser National Park and other places. That kind of flood was surely caused by illegal logging. What does it mean? It means that WE DO NOT TAKE A GOOD CARE OF OUR ENVIRONMENT. Once again WE DO NOT TAKE A GOOD CARE OF OUR ENVIRONMENT. We are NOT FRIENDLY towards nature.

Most of the natural disasters that have been happening recently are caused by human activities, not fate from God. We cannot keep our nature well. We are not good friends for nature. Remember the earth where we are living on now is not the heritage from our grand fathers and grand mothers. We must take a good care of it for our children and grand children, for the next generation.
Once again, let’s try to do our best to save the earth from very simple things, from ourselves. Come on, everybody. Let’s go green to save the earth to make a better life for the next generation.

Sabtu, 25 Juni 2011

Wonderful Adventure

Sabtu, 25 Juni kemarin kakiku rasanya sakit sekali, apalagi kalau dibuat duduk, duh! Tahu nggak kenapa bisa kayak gitu? Pasti nggak tahu, kan? Jelaslah, aku kan belum cerita apa-apa. Kalau gitu, aku ceritain aja deh!
Kemarin, aku dan kawan-kawan satu kelasku liburan ke salah satu objek wisata di kotaku. Eh, bukan salah satu, tapi salah dua. Hehehe.

Jam 6 pagi, kita sudah janjian kumpul di rumah salah satu teman kita. O, iya, ini ceritanya kita sepedahan gitu. Ada sekitar 25 anak yang ikut dari 42 siswa di kelas kita. Setelah semua kumpul, kita berangkat menghampiri dua teman kita yang rumahnya dekat dengan tujuan. Dan akhirnya setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, kita sampai deh, di tujuan pertama kita, Taman Organik!

Kesan pertamaku waktu baru sampai di sana: ini pasti akan sangat menyenangkan! Seperti judul tempatnya, Taman Organik, ini adalah areal persawahan organic yang memiliki luas 6 hektar. Menurut cerita salah seorang pemiliknya, taman ini sebenarnya dibuat untuk kepentingan social, bukan semata-mata mencari keuntungan. Tapi lama kelamaan, dari mulut ke mulut akhirnya mennjadi tempat wisata sekaligus sarana pendidikan. Kami pun tahu ini semua juga dari guru bahasa inggris kami, namanya Mrs. Anik.

Setelah puas mendengarkan beberapa pengarahan dai sang tutor, kita sudah nggak sabar pingin cepet-cepet praktek. Hal yang pertama kita lakukan adalah mengelilingi areal persawahan ini. Ekstremenya, kita nggak pake’ alas kaki alias ‘ngambah’! Dan hasilnya, kaki kita sering sakit karena menginjak duri, rasanya cekit-cekit. Belum lagi ketika harus melewati medan yang becek, tapi kalau yang ini, aku justru nggak keberatan, hehehe.

Sambil berkeliling kita juga dijelasin beberapa hal tentang apa saja yang kita lewatin. Tapi sebenarnya kita juga tidak terlalu memperhatikan, karena kita malah asyikk foto-foto. Lagipula, sang tutor ada di barisan depan, jadi yang belakang nggak kedengaran apa yang dikatakan sang tutor itu. Haha, kita kan melewati pematang-pematang gitu, jadi jalannya harus satu-satu, alhasil, bila dilihat dari atas, kita seperti seekor ular yang berjalan melewati sawah.

Melihat sungai yang mengalir deras dan airnya yang terlihat bersih, menggoda kita untuk ingin nyebur ke sana. “Habis ini kita bisa arung jeram,” kata salah tutor. Mendengarnya, aku langsung melonjak dan tak sabar ingin segera arung jeram. Aku dan teman-teman lainnya pun memaksa si tutor agar waktu arung jeramnya dipercepat.
Sebelum arung jeram, si tutor mengajari kita praktek okulasi terlebih dahulu. Kemudian, kita lupa sejenak dengan arung jeram, karena kita diijinkan mancing terlebih dulu. Anak cewek yang pertama mendapat giliran mincing. Umpannya adalah cacing. Aku geli sekali sama hewan satu ini, jadi aku minta tolong tuornya untuk memasangkan cacing itu di pancingku. Hihihi. Waktu itu, di antara kita, tidak ada yang tidak mendapat ikan. Paling-paling, hanya lama mendapatkan ikannya itu yang berbeda, ada yang baru dimasukkan langsung dapat, ada yang dapat tapi lepas lagi, ada yang harus menunggu agak lama untuk emndapatkan ikan. Dan untungnya, aku menjadi golongan yang pertama. Hehehe. Ya, semua itu terjadi karena kita bukan sedang mincing di sungai, danau, rawa, melainkan di kolam. Hahahaha! Ya, jelaslah! Aku dapat ikan patin, tapi masih belum terlalu besar. Ada juga temenku yang dapat ikan nila.

Cukup puas dengan sekali mancing, aku langsung bergegas ke sungai. Ternyata di sana beberap ank laki-laki udah asyik main arung jeram. Aku dan beberapa anak cewek lain menunggu giliran mendapatkan ‘ban’. Akhirnya mereka selesai juga mainnya, kami segera merebut ban dan menaikinya. Dan… syush… kita meluncur melewati sungai yang tidak terlalu lebar itu. Waktu itu aku dan salah seorang temanku, Ria saling berbagi tempat di ban kita. Aku dan Ria menjerit histeris ketika arus tiba-tiba deras, berungkali terhempas menabrak bebatuan. Kaki kita harus senantiasa di atas agar tidak kena batu. Jerit semakin keras ketika kita mau menabrak tanaman di tepi sungai yang daunnya rimbun dan penuh duri. Ih… ngerii!

Ketika sudah meluncur cukup jauh, kami cemas karena di sungai itu yang ada hanya kita berdua. Aku dan Ria bingung untuk melanjutkan perjalanan, atau cukup sampai di sini saja. Kecemasan kita pudar ketika kita melihat dua teman cowok kita menyusul kita di belakang. Kami berempat sepakat untuk meneruskan perjalan arung jeram. Rasa takut pun hilang seketika, ketika arus sungai semakin lama semakin pelan, namun kita telah berjalan sudah sangat jauh. Suasana juga semakin tidak meyakinkan. Pohon bamboo yang rimbun, gelap dan kesunyian. Apalagi kita melihat ada cabang di sungai ini. Kita berempat pun sepakat untuk menyudahi perjalanan. Ketika salah seorang dari teman cowok kita turun dari ban, dia hampir tenggelam karena air sungai ternyata sangat dalam. Untungnya dia tinggi. Aku dan Ria segera menepi, dengan susah payah, kita pun berhasil mendarat. Lega rasanya. Sambil memboyong ban kita yang besar ini (tapi banku dan Ria anak cowok yang bawain, hihi), kita menyusuri kembali jalan yang telah kita lewati, kita baru sadar bahwa kita telah pergi sangat jauh. Di tengah perjalanan, kita bertemu Ilma dan Rosi. Kita melarang mereka untuk melanjutkan perjalanan, dan membantu mereka naik ke daratan dan pulang bareg berenam.

Sampai di gubuk basecamp, teman-teman lain sudah bersih dan rapi karena mereka sudah mandi dan ganti baju, sedangkan kami berenam baru tiba dengan keadaan basah kuyub dan kotor.

Setelah membersihkan diri dang anti baju, kami makan dengan ayam goreng, tempe goreng, sayur dan sambal trasi yang sudah disiapkan oleh pemiliknya. Parahnya, ada anak-anak cewek yang nggak kebagian ayam maupun tempe karena ank-anak cowok yang rakus dengan ayam yang double. Ckckck…

Setelah kenyang dan melakukan percakapan kecil dengan para tutor tadi, kami pamit pulang dan melanjutkan perjalanan ke Srabah. Srabah itu tempat wisata yang ada waterbom dan taman bermainnya. Sampai di sana ada sedikit masalah dengan seorang ibu. Masalahnya, kita disuruh membenarkan bagian depan motor ibu yang lepas. Padahal kita nggak merasa merusakkannya. Setelah melalui sedikit perdebatan kecil, ibu itu menyuruh kita untuk membiarkannya dan menyuruh kita agar segera masuk saja. Ya sudah, kita masuk saja, setelah bilang minta maaf tentunya. Minta maaf untuk sesuatu yang bukan kesalahan kita memang berat. Kita mencoba melupakan insiden ini dan segera have fun kembali. Ya, bersenang-senang! Ini kan liburan! Yippy!
Kita langsung menuju ke tempat berenang. Tak seperti bayanganku, ternyata waterbomnya kecil, wahanya Cuma ada dua yang dianggap ekstrem (padahal nggak sama sekali). Beda jaauuh sama waterbom di Bali yang pernah aku kunjungi 2 tahun yang lalu. Aku sempat kecewa sih, tapi ya sudahlah, nikmatin aja.
Di sana kita juga foto-foto. Yang moto sendiri adalah teman kita yang nggak berenang. Hehehe, maaf ya, kawan. Semakin lama, semakin dingin dan kakiku semakin linu. Aku dan salah seorang temanku memutuskan untuk mandi lebih dulu. Tak lama kemudian anak yang lain menyusul untuk mandi.

Sebenarnya kami masih ingin foto-foto di arena bermainnya, tapi karena kita sudah sangat lelah dan lapar, dan belum lagi para orang tua yang meneleponi kitta agar segera pulang, akhirnya kita langsung pulang saja. Ngontel lagi deh…. Hahaha!
Di tengah perjalanan, Akma, teman kita yang berulang tahun tanggal 23 Juni kemarin mendapat kejutandari kita. Ia diguyur tepung. Putih semua deh baju, rambutnya. Hahaha! Kasian deh, waktu perjalanan kembali dilanjutkan, ia terus-terusan menggerutu sebal sekali. Jelas dia malu karena dilihati orang-orang di jalan, apalagi nanti kalau ketemu tetangganya. Karena rumahnya dekat, dia pun pulang duluan. Tentu saja dengan perasaan yang masih kesal. Hahaha.
Beberapa anak pulang ke rumah masing-masing. Tapi beberapa di antara kita berhenti dulu di warung untuk emngisi perut yang lapar. Habis itu, kita pulang ke rumah masing-masing.

Yah, itulah liburanku bersama teman-teman sekelasku yang sebentar lagi nggak akan satu kelas lagi, karena kita harus kembali ke kelas awal seperti kelas 7 dulu. Bisa dikatakan, ini sekalian ‘farewell party’.

Walaupun sangat capek, tapi seru juga. Hihihi. Love ya, arek-arek 8i :*

Senin, 02 Mei 2011

CURCOL (Curhat Colongan) Part 2

Hai sobat semua :)
Kayaknya musim hujan udah datang nih, brrr... dingin...!

Hmm... aku mau nglanjutin curhat yg kemarin nih.. hehehe..
Hasil seleksi kedua telah usai, hasilnya juga telah ku ketahui. Hasilnya kurang memuaskan kawan, lagi-lagi aku kalah :(

Sebenarnya nilaiku dengan nilainya sama, namun karena diiakumulasi dengan nilai seleksi pertama, terpaksa aku harus bisa menerima ini semua. Mungkin ini memang sudah takdirku. Dari tahun lalu, aku juga sudah hampir mengikuti OSN bersama kakak kelasku, tapi ada suatu hal yang membuat aku tak jadi mengikutinya. Dan kali ini hal itu terulang kembali.

Aku harus bisa menerima ini semua. Mungkin ini memang yg terbaik untukku. Tapi satu hal, aku harus tetap semangat ! Masih banyak koompetisi lainnya yang bisa aku ikuti.

Keep spirit ! Ya, itulah yang sedang aku lakukan. Tak pernah berhenti bermimpi, dan mengejar mimpi itu sampai dapat :)

Jumat, 22 April 2011

CURCOL (Curhat Colongan)

Aneh memang jika saya curhat di blog ini. Karena saya tahu, mungkin saja postingan ini tidak ada yang membaca (pesimis nih, jangan ditiru ya?

Hmm... sebentar lagi saya akan mengikuti lomba Matematika yang akan menentukan, apakah saya berhak maju ke ajang yang lebih tinggi dan lebih bergengsi. Saat seleksi awal, saya berada di bawah anak kelas 7 (memalukan >,<). Dan besok tgl 1 Mei, kita akan bertanding lagi, menunjukkan siapa yang paling kuat diantara kami berdua.

Dan tahukah sobat semua, untuk memaksimalkan usaha saya, saya bertekad tidak akan membuka akun fb saya, sampai lomba itu selesai. Ya, saya telah berkomitmen, dan saya akan berusaha memegang komitmen itu (Semoga saja bisa!).
Keluarga, teman, banyak yang mendukung saya agar bisa mengalahkan anak kelas 7 itu. Aku sangat berterimakasih pada mereka, yang selalu ada disaat aku memerlukannya.

Saya benar-benar ingiiinnn sekali melanjutkan perjuangan kakak kelas saya yang telah melanglang buana. Saya ingin seperti dia. Dia adalah inspirasi saya... (sok melankolis, hehehe).

Saya berjanji, jika saya diberi kesempatan untuk berjuang melanjutkan perjuangan kakak kelas saya (yang sebentar lg akan keluar itu), saya akan bersungguh-sungguh ! Saya akan berusaha keras untuk mengejar mimpi saya !

Itulah target saya dalam waktu dekat ini. Mungkin saat membaca ini, sobat semua berpikiran kalau saya orang yang ambisius. Tapi tak apa kok, semua terserah Anda semua :)

Yah, itu memang keinginan saya. Yang bisa saya lakukan hanyalah berusaha dan berdoa. Masalah hasilnya, biar Allah yang menentukan. Apapun hasilnya, saya akan berusaha menerima dengan lapang dada :)

Hmm... kayaknya sampe' sini aja deh curcolnya, hehehe :D semoga bisa menjadi inspirasi bagi Anda semua.

Terimakasiiiiihhhh :)

Rabu, 02 Maret 2011

Kita Mulai dari Yang Kecil

Panas ! Panas ! Bumi semakin panas nih ! Ini semua sebagai dampak dari global warming. Global warming terjadi karena peningkatan suhu bumi sebagai akibat dari penipisan lubang ozon. Fenomena ini juga sering disebut sebagai efek rumah kaca. Jadi kita seperti tinggal dalam rumah kaca. Nggak kebayang kan, panasnya kayak apa ?
Huuuh……! Jangan hanya ngeuh n’ kipas – kipas aja dunk ! Ini saatnya kita bertindak ! Walaupun kita masih duduk di bangku SMP, tapi kita bias mengurangi efek rumah kaca mulai dari hal – hal kecil. So, Let’s do it NOW !

1. STOP ! Pemborosan Kertas !
Kita bisa gunakan kedua sisi kertas untuk meminimalisir pemborosan. Atau sebisa mungkin gunakan sistem on - line. So, gak perlu banyak – banyak butuhin kertas, kan ? Untuk yang suka hitung – hitung nih…. Manfaatin aja kertas – kartas bekas yang masih bias dipakai. Sebagaimana mungkin, jangan gunakan kertas yang fungsinya masih utuh ! Eh, tahu nggak sih ? Setiap 1 ton kertas yang kita hemat samdengan menyelamatkan 17 pohon dari penebangan…

2. Inovasi Ramah Lingkungan
Kita bisa meningkatkan daya kreativitas kita dengan barang – barang bekas, lho ! Caranya….. manfaatin barang – barang bekas disekitarmu menjadi barang yang lebih bernilai guna. Misalnya, kita bisa membuat tempat pensil dari kaleng bekas, membuat pigora dari stick bekas ice cream atau membuat baju – baju untuk boneka kalian dari kain perca, seru kan ?

3. Hijaukan Sekitarmu !
Eits… Jangan salah paham dulu. Maksudnya “ Hijaukan Sekitarmu “ itu tanami sekitarmu dengan tumbuhan hijau. Kalaupun nggak ada lahan di sekitarmu, kamu bisa gunakan pot sebagai media tanamnya. Selain memperindah pemandangan, tindakan ini juga dapat mengurangi polusi udara serta mempertinggi kadar oksigen. Syussh… jadi seger deh !

4. Hemat Energi
Sekarang ini sih enak – enak aja, air masih melimpah, listrik gak langka. Tapi gimana kalau
semua itu udah langka ? Nah lho, bisa apa kita ? ( Bukannya doain lho ! ). Daripada gitu,
mending kita hemat aja. Listrik mahal, hemat listrik ya…, matikan lampu yang sudah tak
terpakai, gunakan lampu yang wattnya kecil, dan jangan gunakan bohlam. Untuk air, kita
bisa menghematnya dengan : menyiram tanaman dengan air bekas ( bukan air tercemar ),tutuplah kran air yang tak terpakai, kurangi penggunaan air yang kurang perlu.

Dari suatu hal kecil, bisa menghasilkan sesuatu yang besar. Save our earth start from small thing, NOW !

Selasa, 01 Maret 2011

TIPS MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI


1.     Berdiri tegak, ciptakan kesan pertama semenarik mungkin
Sikap atau posisi tubuh mempengaruhi tingkat rasa percaya diri kita. Berdiri tegak adalah langkah awal meningkatkan rasa percaya diri. Kesan pertama juga akan berpengaruh, misalnya saja apabila kita berdiri di depan, di hadapan banyak orang, kesan pertama yang menarik akan mendapat respons dari audiens, sehingga kita kan lebih percaya diri *_*
2.     Jangan mementingkan kesempurnaan
Tak ada manusia di dunia ini yang sempurna. Sekalipun orang itu memiliki bakat dan prestasi segudang pun, pasti masih ada kekurangannya. Jadi buat apa minder?? Yang lebih penting adalah menujukkan kelebihan Anda di depan orang lain. Terus… jangan takut salah atau terlihat konyol di depan orang lain. Yang penting, PD aja lah gih !!
3.     Bicaralah yang lugas
Gaya berbicara seseorang memperlihatkan tingkat kepercayaan diri mereka. Nggak percaya??? Coba perhatikan orang-orang yang apabila berbicaranya diselingi kata “e…., anu….” Itu tandanya mereka kurang percaya diri. So, berlatihlah berbicara dengan lugas, maka tingkat kepercayaan kita akan meningkat dan orang lain akan lebih respect pada kita ^_^
4.     Bergaul dengan orang-orang yang percaya diri dan berpikiran positif
Pergaulan akan mempengaruhi kita. Bergaullah dengan orang-orang yang PD dan berpikiran positif ! Dan kita akan mejadi PD dan berpikiran positif. Jika kita orang yang PD dan berpikiran positif, tapi bergaulnya dengan orang-orang minder dan berpikiran negative, maka perlahan-lahan kita akan seperti mereka. Nggak mau kan, seperti itu???
5.     Jangan takut mengambil resiko
Belajar mengambil resiko adalah melatih keyakinan dan kepercayaan diri kita. Setiap pilihan pasti ada resikonya masing-masing, jadi mau tidak mau, kita kan menghadapi yang namanya ‘RESIKO’ itu. Jangan pernah takut ! yakinlah bahwa diri Anda BISA ! Maka Anda pun akan BENAR-BENAR BISA  !
6.     Jangan membandingkan diri kita dengan orang lain. Jadilah diri sendiri !
Tanamkan prinsip “BE YOURSELF” ! Ya, jadilah diri kamu sendiri ! Maka karakter dirimu akan terpancar. Jangan terlalu membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, karena setiap orang memiliki kemampuannya masing-masing. Jadilah diri kamu sendiri dan percaya pada diri sendiri akan mendorong kita untuk melakukan hal-hal positif  yang berguna.
7.     Lakukan sesuatu, jangan hanya menonton saja
Jangan suka menjadi ‘penonton’ ! Doronglah dirimu untuk berbuat sesuatu ! Cari alasan mengapa kamu harus bertindak ! Yakinlah bahwa Anda orang penting dan dibutuhkan ! Tapi ingat, jangan takut ditertawakan ! Ditertawakan, justru menjadi tes mental kita yang menjadi pemicu semangat ! Jadi, lakukan sesuatu !